Kasihan, Tangisan Sang Ibu Tetap Tak Goyahkan Niat Petugas Angkut Barang Dagangannya

Bosindoro.com | Mungkin dapat dikatakan sebagai suatu hal yang dilematis, di saat bulan Ramadan tiba, di mana umat muslim menunaikan ibadah puasa, ada juga orang-orang yang mengais rezeki untuk mendukung perekonomian sehari-hari dengan berjualan makanan.

Dikatakan dilematis karena dengan tidak berjualan makanan yang sebelum puasa sudah mereka lakukan, maka tidak ada cash flow yang dapat menopang keseharian, namun jika berjualan, maka dikatakan tidak menghormati orang yang sedang berpuasa.
Hal itu dirasakan langsung oleh seorang wanita pemilik warung makan di Kota Serang, Banteng. Dia harus menangis ketika semua dagangannya harus diangkut dan disita petugas Satuan Polisi pamongpraja PP Pemkot Serang karena dianggap melanggar aturan larangan membuka warung makan pada siang hari di bulan Ramadan.
Walaupun menangis sejadi-jadinya, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan aparat untuk tetap mengangkut dagangannya.
“(Razia) warung nasi dan restoran di Kota Serang yang buka memberi makan pada orang yang tidak puasa,” jelas Kepala Satpol PP Maman Lutfi, seperti yang dilansir oleh Kompas(11/06/2016).
Selain warung dan dagangan milik wanita tersebut, ada beberapa spot yang juga didatangi oleh petugas Satpol PP dan mereka juga menertibkan puluhan warung makan yang tetap nekat buka dan berjualan di siang hari.
Tentunya beragam reaksi yang ditunjukkan oleh pemilik warung ketika mengetahui dagangannya disita aparat. Ada yang menangis, seperti sang ibu tadi, ada pula yang marah dan menghalangi petugas untuk membawa dagangan mereka.
Ketika ditanya, rata-rata para pemilik warung mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya imbauan dari pemerintah daerah setempat akan larangan buka di siang hari di bulan Ramadan. Selain itu, alasan lainnya aadlah mereka tetap nekat membuka warungnya karena terdesak kebutuhan hidup sehari-hari dan juga membutuhkan uang guna menghadapi Lebaran.
Jika dilihat secara logika, sebenarnya siapa yang patut bertoleransi? Umat Islam yang menjalankan ibadah puasa ataukan orang-orang yang beragama lain?
Dalam pemikirannya adalah Indonesia berisikan masyarakat dengan beragam agama di dalamnya. Ketika bulan Ramadan tiba, jika semua warung diwajibkan tutup di siang hari, lantas bagaimana mereka yang beragam lain akan mencari makanan?
Ditambah lagi, pada dasarnya berpuasa adalah suatu ujian untuk menahan rasa lapar, haus, nafsu dan segala hal yang dapat membatalkannya. Jika memang yakin bahwa iman yang dimiliki kuat, maka sebesar apapun godaan, seperti melihat orang makan atau sejenisnya, yang bersangkutan pun tidak akan tergoda.
Hal ini juga seperti yang dialami oleh orang-orang Islam di berbagai negara yang mayoritas penduduknya non-muslim. Bagaimana menurut Anda?
Source: [suratkabar.id]

Post a Comment

0 Comments